Belajar Dari Bencana [1] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.add a comment
Hai, teman-teman. Apa kabar ? Kita berkenalan, ya. Namaku Normandya Bagaskara dan ini adikku Romandya Panjinagara. Teman-teman bisa memanggil Kami Bagas dan Panji. Aku ingin berbagi kisah yang sangat asik dan mengesankan. Kisah sewaktu aku dan adik ikut gotong royong membongkar dan merobohkan rumah-rumah di Kampung Nyutran, di Kota Jogjakarta. Lho, mengapa rumah-rumah yang bagus harus dirobohkan ?
Semua bermula dari suatu pagi di bulan Mei tahun 2006. Hari itu, Sabtu 27 Mei tahun 2006, menjelang pukul 6 pagi. Kota Jogja dan sekitarnya diguncang gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter. Aku tidak bisa lagi membayangkan bagaimana suasana saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Belakangan, kita semua tahu betapa dasyatnya musibah itu. Gempa selama hampir 1 menit itu, telah menimbulkan korban dan kerusakan yang sangat hebat. Lebih dari 6000 orang meninggal dunia. Ribuan orang mengalami cidera. Puluhan ribu rumah dan bangunan porak poranda. Dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggalnya. Ribuan anak-anak di Jogjakarta mengalami sendiri semua peristiwa itu. Kami adalah sebagian dari mereka.
Belajar dari Bencana [2] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.1 comment so far
Keluargaku tinggal di Wirosaban, sebuah kampung di Jogja bagian selatan. Saat itu, Kami pun mengalami suasana yang sangat menegangkan.Sebetulnya, keadaan disini tidak begitu parah. Di perumahan yang Kami tempati, hanya sedikit kerusakan yang terjadi. Kebetulan, dari 2 rumah yang rusak, salah satunya adalah rumahku. Sebagian tembok penyangga atap rumah roboh menimpa semua yang ada dibawahnya. Perabotan rumah pun porak poranda. Kebetulan juga, diantara warga perumahan, hanya Ibu dan Adikku yang mengalami cidera. Saat gempa terjadi, Aku sudah dibawa Bapak keluar rumah. Ibu masih didalam berusaha menyelamatkan adik. Saat itulah mereka berdua tertimpa tembok yang roboh. Dari kepala ibu dan adikku mengalir darah. Tangan kiri ibu tidak bisa digerakkan. Dokter Edi tetangga Kami bilang, sendi di pangkal lengan ibu bergeser dari tempatnya. Kami harus membawanya ke rumah sakit. Belakangan, aku baru sadar ternyata apa yang Kami alami belum seberapa. Saat itu, Bapak mengajakku ke Rumah Sakit Wirosaban yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah. Tapi sesampai di Rumah Sakit, Bapak segera membatalkan niat membawa Ibu dan Adik kesana. Lihatlah sendiri apa yang terjadi disini. Ternyata Rumah Sakit sudah dipenuhi begitu banyak korban. Sebagian besar kondisinya sangat parah. Jauh lebih parah dari yang bisa dibayangkan. Begitu banyak korban sehingga Rumah Sakit tidak mampu menampungnya. Apalagi korban-korban yang lain terus berdatangan. Ternyata apa yang Kami alami belum seberapa. Masih banyak yang lebih parah dari yang Kami alami. Meski Ibu dan Adik cidera, dalam hati Aku merasa bersyukur keluargaku bisa selamat dari musibah ini.
Belajar dari Bencana [3] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.add a comment
Suasana pagi yang mencekam dan menegangkan itu, menjadi semakin kacau ketika tiba-tiba datang isu Tsunami. Orang-orang menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Karena itulah, Bapak dan Ibu memutuskan untuk meninggalkan rumah di Wirosaban. Kami pergi mengungsi ke Kampung Nyutran, karena banyak keluarga Kami yang tinggal disana. Jaraknya tidak lebih 2 kilometer dari Wirosaban. Tapi, perjalanan ke Nyutran ternyata tidak selancar hari-hari biasa. Jalanan dipenuhi berbagai kendaraan dan orang-orang yang panik. Saat itu, lebih dari setengah jam kami baru bisa sampai di Nyutran. Padahal, biasanya cukup ditempuh dalam waktu 5 menit saja. Keadaan di Kampung Nyutran ternyata jauh lebih parah daripada Wirosaban. Puluhan rumah roboh. Sebagian yang lain tidak roboh, tapi tidak bisa ditempati lagi. Hanya bangunan-bangunan baru saja yang masih berdiri kokoh. Disini, kami juga mendengar ada beberapa orang korban yang meninggal dunia. Sebagian besar warga kampung harus berkumpul di luar rumah. Mereka tinggal di tenda-tenda. Rumahnya rusak dan tidak bisa ditempati. Mereka juga takut dan waspada jika gempa susulan terjadi lagi. Teman-teman. Ini adalah rumah kakek dan nenekku, orangtua ibuku. Aku dan adik memanggilnya Kakung dan Uti. Rumah tempat Ibu dibesarkan ini, sebagian besar telah roboh. Rumah Kakung adalah satu dari puluhan rumah di Kampung Nyutran yang tidak mungkin lagi ditempati. Gempa besar seperti ini, adalah peristiwa dahsyat yang belum pernah Kami alami sebelumnya. Jangankan Kami yang masih anak-anak. Kedua orangtuaku juga belum pernah mengalaminya. Bahkan, kakek dan nenek Kami pun baru sekali ini mengalami, meskipun usianya sudah lebih dari 60 tahun. Hari itu, keluargaku memutuskan untuk tinggal sementara waktu di Nyutran. Kami berkumpul dengan keluarga yang lain, sambil menunggu keadaan menjadi normal kembali. Musibah ini telah meninggalkan begitu banyak kerusakan. Tentu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memperbaiki semua ini. Butuh tenaga yang banyak, butuh biaya yang tidak sedikit. Kata Bapak, masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Lalu, bagaimana cara menyelesaikannya?
Belajar dari Bencana [4] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.add a comment
Pertanyaanku terjawab dengan sendirinya, beberapa hari setelah gempa besar terjadi. Mereka sadar untuk segera mengatasi masalah yang dihadapi, tanpa perlu menunggu bantuan yang belum jelas darimana datangnya. Tapi mereka tidak bekerja sendiri-sendiri. Tanpa diberi komando, warga mulai saling membantu membersihkan dan menata kembali lingkungannya. Bapak pernah berkata, sifat dasar untuk saling membantu dan bekerjasama sebetulnya sudah ada di masyarakat kita. Hanya saja, semangat itu sering terlupakan, karena orang-orang lebih mementingkan urusan pribadinya. Diperlukan sesuatu hal yang memicu agar semangat itu muncul kembali. Rasa senasib dan kebersamaan karena terjadinya musibah ini, telah memunculkan kembali semangat itu. Teman-teman, ini kata Bapak, lho! Untunglah ya, kita masih punya semangat untuk bergotong royong dan saling membantu dalam menghadapi suatu masalah. Ya, gotong royong adalah salah satu cara menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Belajar dari Bencana [5] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.add a comment
Teman-teman, sebulan setelah gempa besar berlalu, Aku dan Adik ikut-ikutan gotong royong di rumah Pak Suwondo. Sebagian besar warga kampung berkumpul disini. Bukan cuma para pemuda dan bapak-bapak. Ibu-ibu pun turut sibuk menyiapkan konsumsi. Rumah Pak Suwondo yang rusak parah tidak mungkin ditempati lagi. Karena itu, harus dirobohkan sekalian. Pak Suwondo yang sudah lanjut usia, tidak mungkin melakukannya sendiri, bukan? Maka, warga sepakat untuk bergotong royong membantunya.
Gotong royong ini dilakukan secara bergilir di setiap rumah yang rusak. Tentu dimulai dari rumah yang paling parah. Gotong royong seperti ini, tentu akan menghemat waktu, tenaga dan biaya. Mengapa? Jika dilakukan bersama-sama, semua pekerjaan berat akan menjadi ringan. Pekerjaan juga cepat selesai, karena dilakukan banyak orang. Dengan saling membantu, biaya yang dikeluarkan juga lebih sedikit. Jika harus membayar tukang, tentu biaya yang dikeluarkan Pak Suwondo akan banyak sekali. Yang paling penting, gotong royong akan mempererat persaudaraan. Kita jadi lebih sering bertemu, bertukar pikiran dan saling memahami satu dengan yang lain.
Mereka bekerja dengan ikhlas, meskipun rumah mereka sendiri juga rusak berat. Lihatlah bagaimana mereka bekerja keras dengan penuh suka cita. Lho, wong musibah kok malah ceria? Ya. Begitulah cara mereka menyikapinya. Keceriaan itu malah diabadikan dengan tulisan di belakang gerobak dorong ini.
Pada hari yang sama, Aku dan adik juga mengunjungi kakekku yang lain lagi. Simbah, begitu Kami memanggilnya. Kami biasa memanggil orangtua Bapak dengan sebutan Simbah Kakung dan Simbah Putri. Rumah Simbah tak seberapa jauh dari rumah Kakung. Juga ada di Kampung Nyutran. Berbeda dengan di rumah Pak Suwondo, gotong royong di rumah Simbah dilakukan oleh warga Desa Somorejo. Desa ini letaknya di Purworejo, Jawa Tengah. Teman-teman coba bayangkan. Atas kemauan sendiri, mereka datang dari jauh dan meninggalkan pekerjaan sehari-hari. Untuk apa? Hanya untuk membantu kerabatnya yang sedang dalam kesulitan. Tentu Simbah merasa sangat terbantu dan berterima kasih karenanya. Biar tidak mengganggu yang sedang bergotong-royong, Aku dan Adik menyempatkan bermain di sawah di depan rumah Simbah. Asik sekali, lho! Seperti piknik saja rasanya.
Belajar dari Bencana [6] 19 Desember, 2007
Posted by bagaskara in Pengalamanku.add a comment
Hari-hari setelah bencana, kami tidak hanya disibukkan dengan keadaan rumah dan kampung kami sendiri.Bersama Bapak dan Ibu, Aku dan Adik ikut mengunjungi dan membantu beberapa kerabat yang juga menjadi korban gempa. Lho, bukankah kita korban gempa juga. Mengapa mesti mengunjungi dan membantu orang lain? Kata ibu, dengan berkunjung begini, kita bisa membesarkan hati mereka. Beban dan kesulitan yang dihadapi tentu terasa lebih ringan jika disapa. Meski juga dalam kesulitan, Kita jadi bersyukur karena masih diberikan keselamatan dan keadaan yang lebih baik. Melihat keadaan seperti ini, Kita jadi sadar. Ternyata banyak yang lebih susah dari kita. Kita tidak boleh berdiam diri saja. Kita harus membantu mereka. Jika bisa, bantu mereka dengan sebagian harta yang kita punya. Jika tidak, cukup datang saja untuk menyapa. Menunjukkan perhatian dan kepedulian kita padanya. Teman-teman, banyak pelajaran penting dan berharga yang bisa diperoleh dari terjadinya musibah ini. Rasa senasib dan kebersamaan, ternyata telah membangkitkan kembali semangat untuk saling menolong, dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Dan tolong menolong bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Untuk bisa saling menolong, tentu tidak perlu menunggu musibah datang, bukan ? Ayolah Kita saling tolong kepada siapa saja, tanpa memandang suku, agama dan ras. Tentunya, harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas, tanpa pamrih atau mengharapkan balasan. Jika suka menolong, pasti Kita akan mempunyai banyak teman. Jika semakin banyak orang yang saling berteman dengan baik, tentu persatuan dan kesatuan bangsa kita akan semakin kuat, bukan? Bagi Kami, musibah ini telah memberi terlalu banyak pelajaran berharga. Orang Jawa bilang, Kita harus selalu eling lan waspodo. Sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya, Kita harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita juga harus selalu waspada, karena bencana itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kata Bapak, musibah ini untuk direnungkan dan menjadi kenangan. Betul juga ya. Ingin rasanya kembali ke masa itu. Tentu untuk suasana keakraban dan kebersamaannya, bukan untuk musibahnya.
